Thursday, March 10, 2005

Toto Chan--- a little girl at the window

An old book by Tetsuko Kuroyanagi, first published in 1981, tapi di Indonesia, baru diterbitin tahun 2003, dan awal tahun 2005 baru gue baca. (why it take so long? See article Chicklit (“,)..)
Anyway, this book (at least for me) so inspiring Menceritakan hari2x Toto chan, a girl with “difficulties” yang dikeluarkan pada tahun pertamanya dan akhirnya pindah ke sekolah bernama Tomoe.
Yang unik, disekolah ini muridnya hanya 50 orang, dari kelas 1 sampai kelas akhir dan kelasnya berupa gerbong kereta bekas( interesting classes,isn’t it?). Mereka (murid2x) bebas menentukan mata pelajaran apa yang ingin dipelajari lebih dulu.
This is a true story di Tokyo, sebelum Perang Dunia ke II.
Di toko online amazon, buku ini mendapat five stars rating.

Di sekolah ini, dengan Mr Kabayashi sebagai kepala sekolah (karena memang sekolah ini adalah ide beliau) anak2x diajari untuk mandiri tanpa kehilangan keceriaan masa kecil.

Misalnya pada chapter kapur tulis, dimana pada hari tertentu setiap minggu, murid2x dibebaskan untuk mencoret2x lantai---tetapi setelah itu harus dibersihkan dengan sabun,sikat dan air, bukan perkerjaan yang menyenangkan memang, mengingat mereka pun masih anak2x. tetapi ini mengajari mereka untuk tidak mencoret2x sembarangan, karena sulitnya membersihkan coretan itu.

Yang paling mengharukan adalah bagaimana Toto chan, berusaha untuk membantu teman baiknya Yakashi untuk memanjat pohonnya (setiap murid di Tomoe mempunyai pohon untuk diri mereka sendiri, apabila ada yang ingin memanjat harus ijin si pemilik pohon). Yakashi kena penyakit polio, sehingga sangat sukar baginya untuk memanjat, walaupun memakai tangga sekalipun. Mereka berhasil memanjat pohon toto chan, dan itulah pertama dan terakhir kalinya Yakashi duduk diatas pohon---akhirnya Yakashi meninggal dunia akibat sakitnya.

Anyway, yang membuat gue mengatakan inspiring---this is a true story---berarti awal tahun 1940-an ada seorang Mr. Kabayashi yang mendobrak pendidikan konvensional, dengan membuka sekolah sendiri, agar anak2x dekat dengan alam---anak2x tidak perlu merasa tidak percaya diri dengan keadaan mereka seperti disini diceritakan bagaimana Tasakhi, yang pertumbuhannya telah berhenti sehingga ia sangat pendek memenangkan beberapa perlombaan yang memang dirancang oleh Mr. Kabayashi agar dia menang,
belajar menghargai perasaan orang lain ( Totochan harus menyimpan pita ungu,yang membuatnya sangat cantik sehingga Miko chan juga ingin memilikinya, tetapi kepala sekolah telah mencari ke beberapa toko tidak menemukan pita serupa, sehingga toto chan dianjurkan untuk menyimpan saja pitanya di rumah)
belajar mengakui kesalahan dan meminta maaf untuk tidak mengulanginya (Seorang anak laki2x menjambak rambut totochan yang saat itu dikepang---dia mengadu ke kepsek, Kabayshi mengatakan toto chan tetap cantik dengan kepangnya yang sudah berantakan akibat di jambak itu---dan di lain tempat dan waktu menegur anak lelaki itu agar meminta maaf kepada Totochan seraya berpesan anak perempuan harus dijaga---bukan disiksa---hal yang sangat langka di jepang---bahkan untuk hari ini, dimana ada ungkapan ada perempuan hanya untuk dilihat---tidak untuk didengar apa pendapatnya---so much for gender).

So---kalo seandainya perang dunia tidak pernah ada, dan sekolah Tomoe tidak hancur (sekolah ini hancur karena di bom---setelah perang usai pun, Mr Kabayashi belum berhasil membangun sekolah Tomoe lagi---sampai akhirnya dia meninggal), bukankah murid2x Tomoe akan bertambah banyak, dan mungkin sistem pendidikan seperti itu akan diterapkan ke beberapa Negara.

And If that had been so, we would have been living in a wonderful world, aren’t we?
No war---no crime---no envy---everything would be JUST FINE.

Kiky's rating on the book : ***

2 comments:

TaMi said...

totto-chan emang top abis. bikin sekolah kereta api yuks? btw, jd beli life of pi gak mbak? gue pinjem dongs! ;-)

marry said...

Hi, i just read ur blog, & it's true what u said about toto chan, it's an interesting book indeed (one of my fave) but toto chan has been translated into bahasa way b4 2003, cause i 1st read that book when i was just a kid back in the early 90s. Anyway, glad to read ur review :)